KEISLAMAN DAN KEARABAN

  • 15 April 2021
  • 12:59 WITA
  • Administrator
  • Berita

oleh: Syahrir Karim*

Islam Arab, Agama impor, Habib harus Kembali ke Arab dan segala yang berbau Arab turut menjadi konsumsi politik nasional beberapa tahun terakhir. Arab memang sering menjadi sorotan dunia tak terkecuali di Indonesia. Terkait “Arab” ini, seolah mengingatkan kembali ucapan Cak Nur di suatu waktu bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang sering disalah pahami.  Data sederhana bisa dilihat, bahwa populasi non-muslim juga banyak khususnya di negara-negara yang tergabung di Liga Arab. Sebutlah misalnya di Mesir ada sekitar 10 % non-muslim, bahkan di Libanon lebih banyak lg ada sekitar 40 % non-muslim, termasuk di negara-negara Arab lain juga tidak terlepas dari warga non-muslim. Israel sendiri (tidak tergabung dalam Liga Arab) populasi Islam nya 16 % dari total populasi 1,5 jiwa (Gilang,2017).  Samahalnya ketika menyebut Yahudi dan Arab, padahal terdapat ribuan Yahudi Arab di kawasan ini. Termasuk misalnya tokoh-tokoh pejuang “garis keras” kemerdekaan Palestinapun tidak hanya di kalangan Islam tapi juga dari kalangan non-muslim seperti George Habbas, dkk yang seorang Kristen. Data sederhana ini sedikit bisa menjelaskan banyaknya kesalahpaham yang masih mengkategorikan Arab sebagai muslim, padahal terdapat jutaan warga non-muslim yang tersebar di Timur Tengah sana.

Memahami ke-Arab-an ini mesti memakai pendekatan secara Bahasa, budaya, dan hubungan emosional dan tidak memaknainya dengan pendekatan ras.  Memahami Arab secara ras bisa saja akan menimbulkan kebingungan, karena banyak arab yang sulit dibedakan dengan bangsa eropa, seperti arab dengan rambut yang pirang atau kecoklatan, bermata biru dan berkulit putih. Begitupun secara bahasa, tidak hanya digunakan oleh negara-negara Arab Timur tengah, tapi juga di negara-negara afrika seperti Sudan dan Somalia. Bahasa Arab menjadi Bahasa nasional khusus bagi negara-negara yang tergabung dalam Liga Arab meskipun masing-masing mempunyai perbedaan dalam dialeknya.  Intinya adalah, Bahasa Arab juga adalah Bahasa orang Kristen, Yahudi dan non-muslim lainnya yang tinggal di negara-negara Arab.

Memahami Islam dengan model pakaiannya juga bisa didiskusikan kembali. Toko-toko online telah banyak menjual pakaian Arabian Style, baik fashion  pria dan wanita terkini yang lebih modern. Anggaplah itu bagian dari tren pakaian masa kini, tak lebih dari itu. Tidak lagi mengidentikan pakaian dan tingkat kesalehan orang. Pakaian Arab Pra -Islam, zaman nabi dan modern serta masing-masing suku bangsa di negara-negara Arab juga punya ciri khas masing-masing. Di Indonesiapun demikian, kita punya pakaian khas nusantara seperti sarung dan songkok, dengan beragam corak dan bentuk sesuai suku bangsa di negeri ini.  Negeri ini juga punya kekhasan dalam mengelola negara, tidak lagi harus ujug-ujug melihat system politik di negara-negara Arab sana. Nah, dari beberapa pendekatan memahami Arab di atas kemudian memberi pertanyaan sederhana masihkah kita selalu mengindetikkan Islam dengan Arab?.  Kalaupun iya, Arab yang mana, Arab yang Yahudi, Nasrani atau ada Arab lainnya yang lebih Fashionable, wallahu A’lam. Islam dinilai dari ketaqwaaan dengan selalu mengedepankan nilai-nilai kesalehan baik spiritual dan social. Itu sudah cukup!!!


*Dosen Ilmu Politik UIN Alalauddin Makassar